Tampilkan postingan dengan label arsip 2010. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label arsip 2010. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Maret 2011

GEOZONE: FREE ACCESS INTERNET


Kampus geografi (selasar zone) yang sunyi senyap dikala malam, kini menjadi ramai dengan adanya fasilitas Wi-Fi (Wireless Fidelity). Saat ini, mahasiswa Fakultas Geografi telah dimanjakan dengan adanya fasilitas ini di kampus. Wi-Fi merupakan sekumpulan standar yang digunakan untuk Jaringan Lokal Nirkabel (Wireless Local Area Networks - WLAN) yang didasari pada spesifikasi IEEE 802.11. Awalnya, Wi-Fi ditujukan untuk pengunaan perangkat nirkabel dan Jaringan Area Lokal (LAN). Namun, saat ini Wi-Fi lebih banyak digunakan untuk mengakses internet. Hal ini memungkinan seseorang dengan komputer dan kartu nirkabel (wireless card) atau personal digital assistant (PDA) dapat terhubung dengan internet menggunakan titik akses (area hotspot) terdekat.
Sebenarnya, cukup banyak pilihan jaringan Wi-Fi yang dapat diakses di lingkungan Fakultas Geografi. Jaringan Wi-Fi yang dapat diakses secara umum antara lain, jaringan Wi-Fi geozone, kpjnet, prodiPW, perpus dan hotspot lt.1, lt.2, lt.3 gedung baru Fakultas Geografi. Geozone dapat diakses di sekitar selasar geografi, kpjnet di sekitar ruang dosen KPJ, perpus di area perpustakaan dan ProdiPW di area ruang dosen PW. Sedangkan hotspot lt.1, lt.2, lt.3 di area gedung baru Fakultas Geografi.

UDARA, KONSUMSI UTAMA MAKHLUK HIDUP

Pentingnya udara bagi kehidupan tak dapat dipungkiri lagi, tidak hanya manusia, hewan dan tumbuhan juga sangat memerlukan kehadiran udara. Ketergantungan manusia terhadap udara dapat diibaratkan seperti, manusia sangat membutuhkan air, tetapi tidak sama dengan kebutuhan yang cenderung ketergantungan terhadap udara, manusia masih dapat bertahan hidup dengan puasa minum seharian, hanya timbul gejala dehidrasi. Sebaliknya dengan udara, manusia menahan nafasnya sehari penuh? Tidak mungkin bisa. Maksimal manusia dapat menahan nafas sekitar tiga puluh detik hingga tiga menit saja. Sehingga dapat dilihat betapa ketergantungannya manusia terhadap udara.

Fakultas Geografi Bebas Asap Rokok. Mungkinkah?


Suatu keharusan bagi Fakultas Geografi sebagai pelopor dan produk lingkungan ini untuk selalu menjaga dan menyikapi segala ketidakpedulian terhadap lingkungan. Ketenaran Fakultas Geografi sebagai pencetus environment friendly campus sudah tidak diragukan lagi. Hal ini tentu saja dibarengi dengan pemikiran orang bahwa geografiwan sudah sepantasnya peduli dan cinta lingkungan.

Namun pada kenyataannya, Fakultas Geografi belum bisa membenahi pencemaran udara yang ditimbulkan oleh asap rokok. Dari berbagai sudut di luar ruangan seperti kantin, halaman, selasar, dan gazebo fakultas dapat ditemui kepulan asap yang sangat tidak bersahabat. Adanya tulisan larangan merokok di lingkungan fakultas masih menjadi formalitas belaka. Terlebih larangan tersebut hanya untuk ruangan ber-AC saja. Hal ini sama sekali tidak sesuai dengan fakultas geografi sebagai environment friendly campus.

PERINGATAN HARI BUMI

Penyerahan rambu-rambu dan penyematan pin duta EFC (Enviromental Friendly Campuss) mewarnai pembukaan rangkaian acara hari bumi dan hari lingkungan hidup yangdiselenggarakan oleh fakultas Geografi. Perwakilan dosen dihadiri oleh Eko Haryono dan Joko Christanto. Dari pihak karyawan, diwakili oleh Pak Edi serta Pak Juminto. Sementara, pihak mahasiswa diwakili oleh Dhanisa Rifki Firmanda (KPJ’08). Suara-suara negatif seakan tak menyurutkan langkah pihak dekanat untuk tetap melanjutkan program EFC.

“Geografi melaksanakan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (Education for sustainable development. Stigma tersebut diterapkan dengan program Environmentaly Friendly Campuss (EFC). Sayangnya, partisipasi mahasiswa terbilang masih kurang. Hendaknya program EFC dapat dilaksanakan dengan konsisten. Jika program ini sukses, maka laporan pengelolaan kampus ramah lingkungan akan dibukukan dan diserahkan ke rektorat untuk diterapkan di UGM”, demikian sambutan yang disampaikan dekan Fakultas Geografi UGM, Prof. Suratman, MSc pada upacara peringatan hari bumi dan lingkungan hidup 22 April lalu.